Hypertension-Aassociated Erectile Dysfunction

Ada hubungan yang kompleks antara hipertensi dengan gangguan ereksi.

Definisi

Hypertension-associated erectile dysfunction adalah disfungsi ereksi yang diduga memiliki kaitan dengan hipertensi (tekanan darah tinggi). Disfungsi ereksi adalah ketidakmampuan pria untuk mencapai ereksi atau mempertahankannya sesuai yang diperlukan agar bisa mendapat kepuasan seksual. Tekanan darah tinggi bisa memengaruhi kepuasan seseorang dalam aktivitas seksual dan bisa berdampak pada kualitas hidup pria bersama pasangannya.

Tekanan darah tinggi sering tidak menimbulkan tanda atau gejala. Namun, pengaruhnya ke kehidupan seksual dapat tampak jelas. Jumlah kejadian disfungsi ereksi dua kali lipat lebih banyak pada penderita hipertensi dibandingkan dengan individu yang memiliki tekanan darah normal. Kondisi ini umumnya menjadi masalah yang sering dikeluhkan oleh pria penderita hipertensi. Pada wanita yang memiliki penurunan kepuasan seksual, masih perlu penelitian lebih lanjut untuk membuktikan bila hal ini memang disebabkan oleh tekanan darah tinggi.

 

Penyebab

Seiring waktu, tekanan darah tinggi akan merusak lapisan pembuluh darah. Pembuluh darah arteri bisa mengeras dan menyempit sehingga darah akan semakin sulit melewati pembuluh. Lama-lama, aliran darah yang mengalir ke organ bisa berkurang, salah satunya ke penis. Pada beberapa pria, kurangnya aliran darah ini akan menyebabkan kesulitan untuk mencapai atau mempertahankan ereksi walaupun sudah distimulus oleh gairah seksual.

Ada hubungan yang kompleks antara hipertensi dengan gangguan ereksi. Tekanan darah tinggi bisa muncul sebelum disfungsi ereksi atau memengaruhi keparahan disfungsi ereksi. Penelitian masih dilakukan terkait hubungan obat antihipertensi dengan disfungsi ereksi. Ada beberapa peneliti yang tidak setuju bahwa kelas obat tertentu bisa berefek pada disfungsi ereksi, sementara ada juga pendapat yang percaya bahwa efek penurunan tekanan darah dari antihipertensi bisa menimbulkan disfungsi ereksi pada pasien tertentu dengan penyakit komorbid.

Hal di atas tentunya masih perlu diteliti lebih lanjut. Kepercayaan yang salah bisa membuat pasien tidak patuh minum obat dan kembali meningkatkan tekanan darahnya. Efek psikologis yang muncul bisa memperberat disfungsi ereksi yang dialaminya. Sementara itu, efek tekenan darah tinggi pada masalah seksual wanita masih belum sepenuhnya dipahami.

 

Faktor Risiko

Faktor risiko hipertensi secara konsisten berkaitan dengan disfungsi seksual. Faktor risiko tersebut antara lain:

  • Tidak aktif secara fisik.
  • Obesitas atau berat badan berlebih.
  • Kebiasaan merokok.
  • Dislipidemia (Peningkatan kadar lemak atau kolesterol dalam darah secara berlebihan).
  • Diabetes melitus.
  • Tekanan darah tinggi yang sudah lama dan tidak terkontrol.
  • Menderita penyakit jantung koroner.
  • Adanya gangguan jiwa atau psikologis.

 

Gejala

Disfungsi ereksi ditandai dengan ketidakmampuan yang menetap untuk mencapai atau mempertahankan rigiditas penis yang cukup untuk kepuasan seksual. Anda mungkin akan membutuhkan usaha yang lebih besar untuk ereksi daripada biasanya. Terkadang, dibutuhkan rangsangan langsung pada penis yang lebih intens. Saat ereksi, penis juga tidak sekeras biasanya.

 

Diagnosa

Untuk mendiagnosa adanya disfungsi ereksi terkait hipertensi, dokter akan bertanya seputar riwayat kesehatan Anda, keluhan yang dialami serta pengobatan rutin yang Anda jalani. Dokter juga akan memeriksa penis, buah zakar, dan kelenjar prostat. Anda juga mungkin akan menjalani pemeriksaan penunjang untuk mencari tahu penyebab pasti terjadinya disfungsi ereksi.

Untuk menilai risiko individu terkait penyakit kardiovaskular, dokter bisa menyarankan Anda untuk melakukan pemeriksaan berikut:

  • Tekanan darah
  • Gula darah puasa
  • Fungsi ginjal seperti kreatinin
  • Profil lemak
  • Rekam jantung, dll.

 

Tata Laksana

Dokter akan menyarankan Anda untuk melakukan perubahan gaya hidup sebagai langkah pertama pengobatan. Bila tekanan darah Anda ditemukan tinggi dan tidak terkontrol, umumnya dokter akan meresepkan obat antihipertensi. Dokter akan memonitor bagaimana respon Anda dengan pengobatan yang sudah diberikan, apakah obat sudah cukup untuk menurunkan tekanan darah atau perlu obat tambahan.

Untuk menurunkan risiko efek samping masalah seksual akibat penggunaan obat penurun tekanan darah, minumlah obat tersebut sesuai dengan arahan dokter. Jika timbul keluhan, bicarakan dengan dokter untuk berkonsultasi terkait antihipertensi yang mungkin menimbulkan keluhan atau bila ada kondisi medis lain yang perlu pemeriksaan lebih lanjut. Pastikan juga Anda memberi tahu dokter semua obat-obatan yang Anda konsumsi, termasuk suplemen herbal dan obat yang dijual bebas. Terkadang, suplemen atau kombinasi obat atau suplemen dapat menyebabkan masalah seksual.

Jika penggantian obat tidak membantu mengatasi disfungsi ereksi, maka dapat diberikan terapi yang lebih efektif, yaitu obat penghambat fosfodiesterase-5. Contoh obat golongan ini adalah sildenafil yang berbentuk pil. Umumnya obat ini tergolong aman untuk pria penderita tekanan darah tinggi yang secara umum sehat.

Obat-obatan untuk disfungsi ereksi tidak direkomendasikan untuk pria dengan penyakit jantung dan pembuluh darah yang berat atau penderita hipertensi yang disertai gangguan buang air kecil maupun masalah terkait saluran kemih. Jangan mengonsumsi obat untuk disfungsi ereksi bersama dengan nitrat (obat untuk mengatasi nyeri dada akibat angin duduk). Kombinasi keduanya dapat menyebabkan penurunan tekanan darah yang berbahaya.

Jika seluruh terapi obat-obatan tidak berhasil, maka dapat dilakukan operasi implant prosthesis penis yang menawarkan solusi permanen terhadap masalah disfungsi ereksi. Implant prosthesis meningkatkan kepuasan seksual secara signifikan. Kekurangan prosedur ini adalah kegagalan mekanik dan infeksi.

 

Komplikasi

Meskipun aktivitas seksual tidak memberikan secara dampak langsung pada kesehatan Anda, tekanan darah tinggi dapat memengaruhi kepuasan Anda dalam seks. Hubungan seksual bisa memengaruhi kualitas hidup penderita hipertensi dengan pasangannya.

Satu episode disfungsi ereksi bisa menimbulkan rasa stres dan kecemasan. Ketakutan akan timbulnya gangguan ereksi di kemudian hari dapat menyebabkan penderitanya untuk menghindari aktivitas seksual. Semakin lama kondisi ini berlangsung, kualitas hubungannya hubungannya dengan pasangan juga dapat terganggu.

 

Pencegahan

Menerapkan gaya hidup sehat dapat menurunkan tekanan darah Anda dan berpotensi untuk mencegah timbulnya gangguan ereksi. Terapak pola hidup sehat seperti berikut:

  • Tidak merokok atau memakai tembakau.
  • Mengonsumsi makanan yang bergizi.
  • Membatasi jumlah alkohol yang diminum.
  • Mengurangi jumlah garam pada diet.
  • Melakukan aktivitas fisik secara rutin. Olahraga derajat sedang dapat mengurangi risiko disfungsi ereksi sebanyak 30%.
  • Menurunkan berat badan jika berlebih.

Tubuh yang sehat dan kuat dapat meningkatkan kepercayaan diri dan membantu Anda merasa lebih menarik, yang juga akan memperbaiki kehidupan seksual Anda.

 

Kapan Harus ke Dokter?

Pria yang memiliki kekhawatiran mengenai kehidupan seksualnya dapat berkonsultasi dengan dokter. Selain itu, pria yang ingin mempertimbangkan pemakaian obat untuk mengatasi disfungsi ereksi juga harus berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu.

Memiliki tekanan darah tinggi tidak selalu berarti akan kehilangan kehidupan seksual yang memuaskan. Bicaralah secara terbuka dan jujur pada dokter untuk mendapatkan penanganan yang lebih baik untuk Anda dan membantu Anda untuk mengatasi masalah seksual yang ada

 

Mau tahu informasi seputar penyakit lainnya? Cek di sini, ya!

 

 

Bagikan :

Writer : dr Tea Karina Sudharso
Editor :
  • dr Hanifa Rahma
Last Updated : Tuesday, 06 September 2022

High blood pressure and sex: Overcome the challenges. (2022). Retrieved 26 July 2022, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/high-blood-pressure/in-depth/high-blood-pressure-and-sex/art-20044209

When High Blood Pressure Drugs Cause Erectile Dysfunction. (2022). Retrieved 26 July 2022, from https://www.webmd.com/erectile-dysfunction/guide/blood-pressure-medication-and-ed

Javaroni, V., & Fritsch Neves, M. (2012). Erectile Dysfunction and Hypertension: Impact on Cardiovascular Risk and Treatment. Retrieved 26 July 2022, from https://www.hindawi.com/journals/ijhy/2012/627278/?utm_source=google&utm_medium=cpc&utm_campaign=HDW_MRKT_GBL_SUB_ADWO_PAI_DYNA_JOUR_X_PJ_GROUP3&gclid=Cj0KCQjw_viWBhD8ARIsAH1mCd5eIm2vRUHjTVy_IZurzFZgKfaiC_-GJUWn244m7XPuLGBHNO8kZyEaAmiSEALw_wcB

High Blood Pressure and Erectile Dysfunction. (2022). Retrieved 26 July 2022, from https://www.webmd.com/hypertension-high-blood-pressure/guide/high-blood-pressure-erectile-dysfunction