Tumor Esofagus

Bagikan :


Definisi

Tumor esofagus merupakan suatu penyakit dimana terjadi pertumbuhan sel tidak normal secara berlebihan yang terjadi pada jaringan esofagus. Esofagus, atau dalam bahasa awam disebut dengan kerongkongan, merupakan saluran yang terdiri dari otot-otot yang bertanggung jawab untuk memindahkan makanan dari mulut ke lambung. Pertumbuhan sel-sel tidak normal di luar kendali akan membentuk massa yang disebut tumor. Tumor yang terus tumbuh dan berkembang dapat memengaruhi jaringan dalam dan otot esofagus. Tumor dapat muncul di mana saja di sepanjang esofagus, termasuk di ujung pertemuan antara esofagus dan lambung.

Tumor bisa bersifat ganas ataupun bersifat jinak. Tumor yang bersifat ganas disebut juga  kanker, dan dapat tumbuh dan menyebar ke bagian tubuh lainnya. Tumor jinak berarti tumor dapat tumbuh tetapi tidak menyebar. Secara khusus, kanker esofagus dimulai dari lapisan dalam dinding esofagus dan tumbuh ke luar. Jika menyebar melalui dinding esofagus, sel-sel kanker dapat melakukan perjalanan ke kelenjar getah bening, serta pembuluh darah di dada dan organ terdekat lainnya. Kanker esofagus juga dapat menyebar ke paru-paru, hati, perut, dan bagian tubuh lainnya.

Secara umum, terdapat dua jenis utama kanker esofagus yaitu karsinoma sel skuamosa dan adenokarsinoma. Kanker sel skuamosa bermulai dari sel yang melapisi esofagus (disebut sel skuamosa). Kanker ini biasanya menyerang bagian atas dan tengah esofagus. Adenokarsinoma berkembang di jaringan yang menghasilkan lendir yang berfungsi membantu dalam proses menelan, dan biasanya terjadi di bagian bawah esofagus.

 

Penyebab

Seperti pada kebanyakan tumor dan kanker, penyebab timbulnya tumor esofagus belum diketahui secara pasti. Proses terjadinya diyakini terkait dengan kelainan (mutasi) pada DNA sel yang berhubungan dengan esofagus. Mutasi ini memberi sinyal pada sel untuk berkembang biak lebih cepat daripada sel normal. Mutasi ini juga mengganggu sinyal yang menginstruksikan kematian sel. Jumlah sel yang terus bertambah tanpa diikuti kematian sel yang berimbang mengakibatkan sel-sel tersebut menumpuk dan menjadi tumor, yang dapat tumbuh untuk menyerang struktur di dekatnya dan menyebar ke bagian lain dari tubuh.

 

Faktor Risiko

Terdapat beberapa faktor risiko timbulnya tumor esofagus meliputi:

  • Usia tua: Tumor esofagus lebih sering terjadi pada orang yang berusia lebih dari 60 tahun dibandingkan dengan yang berusia 60 tahun atau lebih muda.
  • Jenis kelamin laki-laki: Laki-laki tiga kali lebih mungkin untuk menderita penyakit ini daripada wanita.
  • Etnis: Kanker esofagus sel skuamosa lebih sering terjadi pada orang Afrika-Amerika dan Asia. Adenokarsinoma lebih sering terjadi pada orang kulit putih.
  • Penggunaan tembakau, termasuk merokok dan penggunaan tembakau tanpa asap.
  • Konsumsi alkohol jangka panjang dan/atau jumlah yang banyak dapat meningkatkan risiko kanker esofagus.
  • Barrett’s esofagus dan refluks asam lambung kronis: Barrett’s esofagus adalah kondisi dimana terjadi perubahan sel-sel di ujung bawah esofagus yang terjadi akibat dari refluks asam lambung kronis yang tidak diobati. Bahkan tanpa Barrett’s esofagus, orang dengan nyeri lambung jangka panjang memiliki risiko lebih tinggi terkena kanker esofagus.
  • Human papilloma virus (HPV): Pada daerah yang memiliki insiden tinggi terjadinya kanker esofagus (seperti Asia dan Afrika Selatan), infeksi HPV membawa peningkatan risiko untuk menderita kanker sel skuamosa esofagus. HPV adalah suatu virus yang dapat menyebabkan perubahan jaringan pada pita suara dan mulut, serta pada tangan, kaki, dan organ seksual.
  • Gangguan lain: Kondisi lain telah dikaitkan dengan terjadinya kanker esofagus, termasuk akalasia, yaitu penyakit langka yang menyebabkan kesulitan menelan, dan tylosis, yaitu kelainan bawaan langka di mana kulit berlebih tumbuh di telapak tangan dan telapak kaki.
  • Paparan bahan kimia tertentu di tempat kerja: Orang yang terpapar pelarut pembersih kering dalam jangka waktu yang lama berisiko lebih tinggi terkena tumor esofagus.
  • Riwayat kanker: Orang yang pernah menderita kanker leher atau kepala memiliki risiko lebih besar terkena tumor esofagus.

 

Gejala

Tumor esofagus mungkin tidak memiliki gejala yang jelas pada tahap awal. Gejala yang dapat ditimbulkan oleh tumor esofagus antara lain:

  • Kesulitan dan rasa sakit saat menelan, terutama saat makan daging, roti, atau sayuran mentah. Seiring dengan pertumbuhan tumor, saluran menuju ke lambung dapat terhalang, dan bahkan konsumsi cairan mungkin terasa menyakitkan untuk ditelan.
  • Tekanan atau rasa terbakar di dada
  • Gangguan pencernaan atau perut mulas
  • Muntah
  • Sering tersedak makanan
  • Penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan sebabnya
  • Batuk atau suara serak untuk jangka waktu yang lama
  • Nyeri di belakang tulang dada atau di tenggorokan
  • Pendarahan pada esofagus. Darah yang dihasilkan kemudian akan melewati saluran cerna yang dapat mengubah tinja menjadi warna hitam. Seiring berjalannya penyakit, kehilangan darah ini dapat menyebabkan anemia (kadar sel darah merah yang rendah), yang dapat menyebabkan rasa lelah.

 

Diagnosis

Dalam mendiagnosis tumor esofagus, dokter akan mulai dengan melakukan wawancara untuk menanyakan riwayat kesehatan Anda, termasuk gejala Anda saat ini dan juga faktor-faktor risiko yang mungkin Anda miliki. Kemudian dokter akan melanjutkan dengan melakukan pemeriksaan fisik. Setelah pemeriksaan fisik, dokter mungkin menyarankan beberapa tes tertentu yang dapat membantu dalam mendiagnosis tumor esofagus, seperti:

  • Pemeriksaan X-ray dengan cairan Barium untuk memvisualisasikan esofagus. Pasien akan diminta untuk meminum cairan yang mengandung Barium, yang membuat kerongkongan lebih mudah terlihat pada sinar-X.
  • Esofagoskopi, yaitu suatu prosedur yang memungkinkan dokter untuk melihat bagian dalam esofagus dengan menggunakan semacam kabel tipis berkamera dan berlampu yang disebut endoskop. Endoskop akan dimasukkan melewati mulut dan turun ke ke esofagus saat Anda tertidur. Endoskopi juga dapat digunakan untuk menghilangkan sumbatan pada esofagus. Dokter dapat memasukkan balon untuk melebarkan saluran yang tersumbat.
  • Biopsi: Selama esofagoskopi, dokter mungkin mengambil sepotong kecil jaringan untuk diperiksa di bawah mikroskop untuk melihat apakah terdapat sel kanker.
  • Ultrasonografi endoskopi esofagus, dengan menggunakan gelombang suara untuk membuat gambar struktur internal esofagus. Dalam prosedur ini, USG dilakukan melalui esofagoskopi.
  • Computed tomography (CT) scan sering digunakan untuk mengevaluasi tingkat penyebaran tumor ke dada dan perut.
  • Tes lain, termasuk pemindaian Positron Emission Tomography (PET), torakoskopi, dan laparoskopi, dapat dilakukan untuk menentukan apakah tumor telah menyebar, atau bermetastasis, di luar esofagus.

 

Tata laksana

Tatalaksana tumor esofagus memiliki peluang lebih besar untuk berhasil jika tumor terdeteksi dini. Sayangnya, ketika tumor esofagus terdiagnosis, seringkali sudah dalam stadium lanjut (telah menyebar ke seluruh esofagus dan bagian tubuh lainnya). Pengobatan tumor esofagus tergantung pada banyak faktor, termasuk stadium dan kesehatan pasien secara keseluruhan. Beberapa pilihan tatalaksana tumor esofagus, meliputi:

  • Pembedahan, sebagian atau seluruh esofagus dapat diangkat.
  • Terapi radiasi,untuk membunuh sel kanker dengan radiasi.
  • Kemoterapi, yaitu obat yang mampu menyerang sel kanker di seluruh tubuh. Biasanya digunakan dalam kombinasi dengan terapi radiasi dan/atau pembedahan.
  • Terapi target (targeted therapy), yaitu perawatan baru yang menargetkan aspek spesifik kanker untuk mengekang pertumbuhan dan penyebaran kanker.
  • Imunoterapi, untuk membantu sistem kekebalan tubuh dalam menyerang sel kanker.
  • Terapi fotodinamik, dengan cara menargetkan sel kanker dengan sinar laser khusus.
  • Elektrokoagulasi, dengan cara menggunakan arus listrik untuk menghancurkan sel kanker.
  • Krioterapi, yaitu membekukan sel kanker untuk membantu mengecilkan tumor.
  • Reseksi mukosa dengan endoskopi, dapat dilakukan untuk mengobati prakanker atau kanker awal yang sangat kecil dengan menghilangkan lapisan dalam kerongkongan. Perawatan ablasi radiofrekuensi menggunakan perangkat yang menargetkan sel kanker dengan energi frekuensi radio juga terkadang digunakan untuk kanker stadium dini.

 

Komplikasi

Tumor esofagus yang terus berkembang, dapat menyebabkan komplikasi, seperti:

  • Sumbatan pada esofagus. Tumor dapat mempersulit makanan dan cairan untuk melewati esofagus Anda.
  • Nyeri. Tumor esofagus stadium lanjut dapat menyebabkan rasa sakit.
  • Perdarahan di esofagus. Tumor esofagus dapat menyebabkan perdarahan. Meskipun perdarahan biasanya berlangsung secara bertahap, kadang-kadang bisa terjadi secara tiba-tiba dan parah.

 

Pencegahan

Meskipun belum diketahui cara pasti untuk mencegah tumor esofagus, terdapat beberapa langkah yang dapat Anda ambil untuk menurunkan risiko terkena tumor esofagus, seperti:

  • Menghindari rokok dan produk tembakau
  • Membatasi konsumsi alkohol juga dianggap dapat menurunkan risiko Anda
  • Konsumsi banyak buah dan sayuran, serta menjaga berat badan yang ideal juga dapat menjadi cara yang efektif untuk menghindari tumor esofagus.

 

Kapan Harus ke Dokter ?

Konsultasikan diri Anda dengan dokter jika mengalami gejala-gejala yang mengarah ke tumor esofagus, seperti kesulitan dan rasa nyeri saat menelan yang berlangsung lama. Jika Anda memiliki riwayat Barrett’s esofagus, risiko tumor esofagus Anda menjadi lebih tinggi, sehingga disarankan untuk bertanya ke dokter mengenai tanda dan gejala apa yang harus diperhatikan yang mungkin menandakan bahwa kondisi Anda memburuk, serta diskusikan mengenai skrining untuk tumor esofagus.

 

Writer : dr Dedi Yanto Husada
Editor :
  • dr Nadia Opmalina
Last Updated : Rabu, 22 Mei 2024 | 16:25

American Cancer Society. Esophagus Cancer. (2020). Retrieved 26 Januari 2022, from https://www.cancer.org/cancer/esophagus-cancer.html

American Society of Clinical Oncology. (2021). Esophageal Cancer. Retrieved 26 Januari 2022, from https://www.cancer.net/cancer-types/esophageal-cancer/introduction

Esophageal Cancer. (2020). Retrieved 26 Januari 2022, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/esophageal-cancer/symptoms-causes/syc-20356084

Esophageal Cancer. (2019). Retrieved 26 Januari 2022, from https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/6137-esophageal-cancer

Ratini, Melinda. Esophageal Cancer. (2022). Retrieved 26 Januari 2022, from https://www.webmd.com/cancer/esophageal-cancer

What is Oesophageal Cancer?. (2020). Retrieved 26 Januari 2022, from https://www.nhs.uk/conditions/oesophageal-cancer/

Wint, Carmella. (2018). Esophageal Cancer. Retrieved 26 Januari 2022, from https://www.healthline.com/health/esophageal-cancer