• Home
  • Self-help
  • Mengenal Krisis Identitas pada Remaja dan Cara Menghadapinya

Mengenal Krisis Identitas pada Remaja dan Cara Menghadapinya

Credit: Freepik. Remaja yang mengalami masa pencarian jati diri

Memasuki masa remaja, anak akan mengalami banyak perubahan mulai dari fisik hingga kematangan secara emosional. Pada tahapan perkembangan ini anak juga akan mengalami masa pencarian jati diri untuk lebih mengenal dirinya sendiri.

 

Apa Itu Krisis Identitas pada Remaja?

Istilah krisis identitas atau pencarian jati diri pertama kali dicetuskan oleh psikolog ternama, Erik Erikson. Menurut Erik, pembentukan identitas seseorang adalah permasalahan paling penting yang akan dihadapi oleh seseorang mengenai dirinya sendiri.

Proses pembentukan identitas ini dapat berlangsung ketika anak memasuki masa remaja dan dewasa. Identitas seseorang dapat terus berkembang dan berubah ketika menghadapi kondisi dan tantangan yang baru.

Dilansir dari Verywell Mind, krisis identitas atau masa pencarian jati diri adalah masa ketika seseorang mulai melakukan analisis intensif dan mengeksplorasi berbagai cara untuk menemukan dirinya sendiri.

Pada proses ini, seseorang akan mempertanyakan berbagai hal mengenai dirinya sendiri mulai dari kepercayaan, tujuan hidup, perasaan dan pengalaman. Proses pencarian jati diri ini dapat dialami semua orang, namun lebih sering terjadi pada masa remaja.

 

Tanda-Tanda Remaja Mengalami Krisis Identitas

Proses pencarian jati diri bagi remaja merupakan tahapan penting dari perkembangan mereka. Ketika remaja sedang membentuk identitasnya, mereka mempelajari apa yang membuat diri mereka unik dan akan terus belajar untuk menyesuaikan diri.

Selama proses pencarian jati diri tersebut, para remaja akan kerap mempertanyakan beberapa hal berikut:

  • Apa saja kegiatan yang saya sukai?
  • Bagaimana keyakinan spiritual saya?
  • Apa orientasi seksual saya?
  • Apa nilai-nilai dalam kehidupan yang perlu saya anut?
  • Apa tujuan hidup saya atau peran saya dalam masyarakat?
  • Siapa saya? (Pertanyaan ini bisa berlaku secara umum atau berkaitan dengan pencapaian hari ini dan cita-cita di masa depan)

Bagi sebagian remaja, masa pencarian jati diri ini tidak selalu mudah. Terlebih bagi anak-anak yang tumbuh di lingkungan yang penuh kekerasan, hal ini dapat mendorong anak menjadi pribadi yang menyukai kekerasan.

Pada beberapa kasus, masa pencarian jati diri pada remaja dapat mengarah pada perilaku berbahaya seperti:

  • Penggunaan obat-obatan terlarang
  • Depresi
  • Pergaulan bebas

Remaja juga cenderung berprestasi buruk di sekolah, memiliki rasa percaya diri dan harga diri yang rendah dan mulai bertindak kompulsif.

Hal ini merupakan bagian dari proses pencarian jati diri dimana para remaja mencoba menemukan diri mereka sendiri. Remaja memiliki ketertarikan untuk mencoba berbagai hal termasuk hal yang berbahaya agar dapat mendefinisikan dirinya sendiri, apakah ia menyukai hal tersebut ataukah ia menyadari bahwa hal tersebut memiliki sejumlah bahaya yang perlu dihindari. 

Di sinilah perlunya peran orang tua dalam mendampingi dan mengarahkan anak ketika krisis identitas tersebut terjadi. 

 

Menghadapi Krisis Identitas pada Remaja

Bagi remaja, krisis identitas dapat menjadi sebuah proses yang panjang dan melelahkan. Terlebih lagi tekanan sosial ketika ia melihat teman sebayanya lebih berprestasi atau lebih menonjol di pergaulan. Kondisi ini tanpa disadari dapat memngaruhi pola pikir dan perilaku anak. Akibatnya, tak jarang para remaja mengalami depresi, stres dan menarik diri dari lingkungan pergaulan.

Apabila remaja Anda sedang mengalami masa-masa tersebut maka sebagai orang tua Anda dapat terus memotivasi anak agar ia menemukan apa hal yang disukai dalam hidup. Beberapa cara lain yang bisa Anda lakukan antara lain:

1. Bantu anak menentukan apa yang ia sukai

Anak remaja yang sedang dalam masa pencarian jati diri akan dihadapkan pada berbagai pilihan sehingga sulit untuk menentukan apa yang ia inginkan. Terkadang ia hanya akan mengikuti tren di pergaulannya meskipun hal tersebut belum tentu baik bagi dirinya.

Sebagai orang tua, Anda bisa mencoba mengarahkan dan memberi pertimbangan mana hal yang baik untuk anak dan mana yang tidak. Hal ini berlaku untuk banyak hal, mulai dari hal sederhana seperti menentukan gaya berpakaian hingga memilih komunitas atau hal-hal yang ia sukai lainnya.

2. Bentuk kebiasaan berdiskusi dengan anak

Untuk membantu memberi arahan pada anak remaja, biasakan untuk berdiskusi dengannya agar melatih daya berpikir anak sekaligus melatih anak mengenali perasaannya sendiri. Dengan cara ini, anak akan merasa didukung dan pendapatnya didengarkan dengan baik.

 

Masa pencarian jati diri dapat menjadi sebuah tahapan yang berat bagi para remaja. Karenanya dibutuhkan dukungan dan arahan dari orang tua agar anak tidak terjerumus dalam perilaku berbahaya. Apabila diperlukan, orang tua dapat berdiskusi dengan guru di sekolah, serta terapis anak untuk membantu anak menemukan jati dirinya. 

Mau tahu tips dan trik kesehatan, pertolongan pertama, dan home remedies lainnya? Cek di sini, ya!

 

Bagikan :

Writer : Ratih AI Care
Editor :
  • dr Nadia Opmalina
Last Updated : Friday, 05 August 2022

Cherry, K. (2022). What Is an Identity Crisis?. Available from: https://www.verywellmind.com/what-is-an-identity-crisis-2795948#toc-treatment-for-an-identity-crisis

Cherry, K (2022). Identity vs. Role Confusion in Psychosocial Development. Available from: https://www.verywellmind.com/identity-versus-confusion-2795735

Villines, Z (2022). What is an identity crisisi?. Available from: https://www.medicalnewstoday.com/articles/identity-crisis

Elmer, J. (2019). What’s an Identity Crisis and Could You Be Having One?. Available from: https://www.healthline.com/health/mental-health/identity-crisis#TOC_TITLE_HDR_1

https://oureverydaylife.com/identity-crisis-during-adolescence-7736181.html